November 06, 2015

Obama untuk Amerika: “Steel” against Romney

Brian Rizky Bimantara I92214016
Komunikasi Politik CI113035
Dias Pabyantara Swandita Mahayasa, M.Hub.Int.
27 Oktober 2015

Sebagaimana kita tahu, bahwa media massa memiliki peranan penting dalam kehidupan manusia sehari-hari, hal ini berkaitan dengan digunakannya media massa dalam kehidupan manusia, bidang politik sebagai contohnya. Pada tahun 2012 telah diadakan pemilu presiden Amerika Serikat untuk menentukan presiden ke-45. Peranan media masa memiliki andil yang cukup besar terhadap terpilihnya Barrack Husain Obama sebagai pemenang yang menjadikannya presiden ke-45, mengalahkan saingan terberatnya dari Partai Republik yaitu Mitt Romney, terkait dengan adanya penggunaan media masa sebagai alat kampanye Obama dalam meraih dukungan suara terbesar sehingga ia bisa terpilih menjadi presiden. Bagi penulis, salah satu contoh iklan kampanye yang perlu di analisis ialah iklan kampanye Obama yang berjudul “Steel”.[1] Sebagaimana kita tahu bahwa media dapat menjadi sebuah kekuatan tersendiri bagi kepentingan seorang individu maupun kelompok.[2] Oleh sebab itu disini penulis merasa perlunya memahami lebih dalam mengenai maksud dan latar belakang adanya iklan kampanye bertajuk video yang berjudul Steel.
 
Steel merupakan sebuah video kampanye yang diterbitkan oleh Obama for America (OFA) sebagai bentuk kampanye atas pemilihan umum amerika pada tahun 2008. Pada dasarnya Steel dibuat untuk menyerang kandidat lawan dari Partai Republik yakni Mitt Romney. Mitt Romney merupakan pendiri perusahan investasi Bain Capital  pada tahun 1984, dan pada sepuluh tahun kemudian, di tahun 1994 ia mencoba meraih menempati kursi senat Amerika di Massachusetts tetapi gagal, hingga pada akhirnya pada pemilu presiden pada tahun 2012 mencoba ulang peruntungannya dengan menjadi salah satu kandidat calon presiden amerika serikat.[3]Dalam iklan video kampanye tersebut, OFA sebagai pembuat video mencoba meyakinkan penonton video tersebut mengenai komitmen yang dimiliki Mitt Romney untuk peduli terhadap warga amerika, hal itu diperkuat lagi melalui lontaran seseorang yang berada dalam video tersebut yakni “... kita ini tidak kaya..mereka menghancurkan kehidupan, menghancurkan orang-orang,....” .  Disini terlihat jelas bahwa, OFA mencoba untuk menantang self-approval yang dilakukan oleh Romney yang menyatakan bahwa dirinya seorang pebisnis cemerlang yang mengetahui seluk-beluk ekonomi, mengetahui bagaimana upaya-upaya yang harus dilakukan dalam memajukan ekonomi amerika serikat baik itu domestik dan internasional serta selalu menekankan bahwa ia memiliki kredibilitas yang tinggi dan berkompetensi dalam mengatasi segala macam permasalahan ekonomi yang akan dihadapi oleh Amerika kedepan. Show-off as pengusaha yang sukses ini dijadikan senjata utama Romney dalam nenantang Obama yang dianggap hanya sebagai penggerak perubahan dan tidak memiliki kredibilitas dan kompetensi dalam bidang ekonomi yang nantinya akan membuat warga Amerika mengalami penderitaan karena ekonomi Amerika yang terus menurun. OFA pun menanyakan balik kredibilitas dari Romney yang memiliki tanggung jawab atas kebangkrutan yang terjadi pada perusahaan-perusahaan dibawah konsultasi dari Romney yang menyebabkan terjadinya banyaknya perpindahan pekerjaan ke luar negeri. Hal itulah yang menyebabkan OFA memberikan narasi penuduhan terhadap Romney yang menghancurkan kehidupan orang orang. Iklan kampanye yang digalang oleh OFA ini juga semakin komplit dan menarik atas dibalutnya video dengan musikalisasi dan harmoni yang pas seperti pencahayaan, pembawaan gitar yang upbeat dan drum yang keras yang semakin memposisikan Bain Capital yang merupakan perusahaan milik Romney ini sebagai peusahaan yang menghancurkan ribuan karir orang orang dan kabur dengan membawa banyak uang. Dengn kata lain kedatangan Bain Capital menyerang perusahaan dan menyebabkan suatu perusahaan tersebut bangkrut.

Iklan kampanye tersebut juga mengkritik Show off yang dilakukan Romney dengan menghubungkannya dengan krisis finansial pada tahun 2008, bahwasanya krisis finansial tersebut juga disebabkan perusahaan Romney. Romney dalam video tersebut juga digambarkan like a boss  sesuai dengan pakaian berdasi dan menandatangani surat surat dibalik sebuah meja kantor. Salah seorang pemain dalam video tersebut juga menyebut Romney sebagai seorang yang sombong. Selain itu pemain video tersebut menyambungkan semua argumen argumennya terkait dengan karakter dari Romney dan menyatakan “ Apabila ia mencalonkan diri menjadi presiden dan menjalankan negara ini sesuai bagaimana ia menjalankan bisnis nya, maka diriku tak menginginkannya. Dia terlihat tidak berusaha melihat keadaan negeri ini untuk menciptakan suatu kesamarataan. Bagaimana ia mau peduli? Bagaimana ia mau peduli dengan pekerja dengan pendapatan rerata?”. Penulis sebagai seorang penonton video tersebut secara tidak langsung mencabut simpatinya kepada Romney karena kekejaman yang ditunjukkan Romney melalui Capital Bainnya. Ia terlihat lebih peduli bagaimana cara mendapatkan keuntungan dan kekayaan bagi dirinya sendiri daripada pekerja dan rakyat biasa di Amerika.

Sebagai mahasiswa, penulis mengkategorikan iklan yang dilakukan oleh Obama for America (OFA) tersebut termasuk kampanye negatif. Hal tersebut sesuai dengan pengkategorian antara kampanye positif dan negatif dimana kampanye negatif lebih kepada membicarakan lawan kandidat daripada mempromosikan dirinya sendiri. Sehingga di kampanye negatif lebih menitikberatkan kelemahan-kelemahan lawan.[4] Bagaimanapun begitu, Obama telah menyetujui adanya iklan kampanye tersebut. Obama juga menitikberatkan terhadap kata kata Romney yakni “ Saya adalah pebisnis dan saya tahu bagaimana untuk memperbaikinya”. Obama menanggapinya dengan memberi tambahan, bahwasanya tugas seorang presiden tidak hanya memaksimalkan keuntungan saja, tetapi juga harus memikirkan para pekerja yang diberhentikan dan bagaimana cara kita membiayai pelatihan mereka. Selain itu, presiden juga harus berpikir bagaimana menciptakan lapangan kerja baru, sehingga mereka bisa menarik lahan bisnis baru. Apabila seorang presiden memikirkan hal tersebut dan tahu bagaimana cara melakukannya dengan baik, maka presiden tersebut dapat mampu untuk meningkatkan ekonomi. Semua itu menunjukkan bahwasanya obama memposisikan dirinya tidak untuk menjatuhkan Romney tetapi ia hanya mengingatkan bagaimana seharusnya Romney mempertimbangkan para pekerja sehingga mereka tidak tertinggal dikarenakan kelemahan yang dimilikinya, dengan kata lain Presiden juga harus merangkul segala elemen.

Sebagai reaksi dari tandingannya, Romney tidak hanya diam saja tetapi ia juga melakukan rebuttal terhadap iklan kampanye yang dikeluarkan Obama for America (OFA). Rebuttal tersebut juga berupa kampanye iklan video, tetapi Romney lebih menitikbberatkan terhadap Bain Capital dimana OFA berusaha menjatuhkan Romney melalui Bain Capital sebagai perusahaannya pula. Iklan kampanye video yang dikeluarkan oleh Romney menunjukkan bahwa sesuatu yang dulunya bukan apa-apa menjadi pabrik baja yang makmur.[5]
 
Penulis dapat menyimpulkan bahwasanya terjadi aksi reaksi terhadap iklan kampanye politik antara Barrack Obama dan Romney. Aksi reaksi tersebut juga menciptakan Potential Backlash Effects.[6] Hal tersebut membuat masing masing kandidat semakin mencari keburukan dari lawannya. Tetapi Romney terlihat lebih bijak dalam merespon iklan kampanye sebagaimana terlihat pada video iklan kampanye nya yang tergolong positive campaign terkait video terebut fokus terhadap Bain Capital saja. Sehingga Potential Blacklash Effects tidak terlalu besar.

[1] https://www.youtube.com/watch?v=sWiSFwZJXwE , diakses pada 27 Oktober 2015
[2] Colleen Cotter. 2001. Discourse and Media within Handbook of Discourse Analysis written by Deborah Schriffin. Massachussets: Blackwell Publisher. Page 422
[3] http://www.biography.com/people/mitt-romney-241055#2008-presidential-run , diakses pada 27 Oktober 2015
[4] Colleen Cotter. 2001. Political Advertising within Handbook of Discourse Analysis written by Deborah Schriffin. Massachussets: Blackwell Publisher. Page 178
[5]http://www.youtube.com/watch?v=Q2w7iXazNso , diakses pada 27 Oktober 2015
[6] Colleen Cotter. 2001. Political Advertising within Handbook of Discourse Analysis written by Deborah Schriffin. Massachussets: Blackwell Publisher. Page 172


No comments:

Post a Comment